Mangkunegara IV

 

KGPAA   Mangkunegara   IV

3  Maret 1811 -  2 September 1881

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player

Powered by RS Web Solutions

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo ( KGPAA) Mangkunegoro IV merupakan putra pasangan Kanjeng Pangeran  ( KP) Hadiwijoyo I dengan Raden Ajeng Sekeli, lahir pada tanggal 3 Maret 1811 di Surakarta, yang diberi nama   RM Sudiro.

R.M. Sudiro lahir di ndalem Hadiwijayan (beberapa sumber mengatakan bahwa tempat tersebut sekarang menjadi milik KRMH Yapto S. Suryosumarno).

Dari garis ayah, yaitu KP  Hadiwijoyo I  adalah putra RMT Kusumodingrat, dan cicit dari KPA Hadiwijoyo ( Pangeran  Seda ing Kaliabu) dan  cucu dari Susuhunan Paku Buwana III, sedangkan dari garis ibu yaitu RA Sekeli merupakan putri dari Sri Mangkunegara II.

Sejak kecil  hingga berusia 10 tahun  RM Sudiro  diasuh  dan dididik oleh  kakeknya yaitu  KGPAA Mangkunegara II  untuk  belajar agama, membaca, bahasa dan tulisan Jawa serta belajar bahasa Belanda, tulisan latin dan pengetahuan lainnya dari  orang Belanda diantaranya JFC Dr.Gericke  dan CF.Winter.

Setelah usia 10 tahun, RM Sudiro nderek Sri Mangkunegara III di Puro Mangkunegaran dan diangkat sebagai putra.  Sri MN III tertarik dengan kecerdasan RM Sudiro  dan  karena dari permaisuri beliau tidak punya putra laki laki, maka beliau menghendaki agar RM Sudiro kelak diangkat sebagai penggantinya.  

RM Sudiro setelah diangkat menjadi Pangeran, namanya menjadi Pangeran Arya Gondokusumo. Beliau merupakan seorang pangeran yang pertama menggunakan nama Gondo. Nama ini dipergunakan sebagai penghormatan terhadap eyang buyutnya ( istri P. Hadiwijoyo Kali Abu yang bernama R. Ay. Gondosari).

 

Catatan  :

Pada saat P. Hadiwijoyo sedang mandi bersama istrinya R. Ay. Gondosari  di Kali Abu, patroli Belanda datang menyerang. Dengan segera  P. Hadiwijoyo  meloncat  menaiki kudanya untuk menghindari serangan, namun  kemudian  beliau ingat istrinya  masih tertinggal di  tepi sungai sehingga  beliau memutar kudanya untuk menjemputnya. Disaat beliau sedang memegang tangan istrinya untuk dinaikkan ke atas kuda, seorang serdadu Belanda meyabet lehernya dengan pedang dan langsung  kepala P. Hadiwijoyo terpenggal.

 

24 Maret 1853

RM Sudiro yang   namanya  menjadi  Pangeran Arya Gondokusumo diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Prabu Prangwadono IV.

16 Agustus 1857

KPAA Prangwadono IV ditetapkan  menjadi KGPAA Mangkunegoro IV dan diwisuda menjadi Kolonel Legiun Mangkunegaran.

 

 Langkah awal yang dilakukan setelah diangkat menjadi pimpinan Praja Mangkunegaran adalah menata pemerintahan  yang berpedoman pada Panca Pratama, Hasta Brata, dan berbagai ajaran  yang diperoleh dari kepustakaan barat dan jawa lainnya, yaitu :

 

1.      Menata kembali struktur organisasi

2.      Menata kegiatan bidang ekonomi

3.      Menata bidang sosial budaya dalam usaha menatap masa depan.

4.  Menata dan menyempurnakan tugas tugas Legiun Mangkunegaran

5.Melakukan pembangunan dengan membangun perusahaan dan membangun berbagai fasilitas untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

 

 Sekalipun Sri Mangkunegoro IV banyak bergaul dengan bangsa barat, namun sebagai pimpinan praja, beliau berusaha meneladani raja –raja jawa yang baik.

Sebagai  tolak ukur raja yang baik dijumpai dalam Serat Witaradya yang merupakan  karya dari sahabat dekatnya R. Ng. Ronggowarsito dimana dikatakan bahwa seorang  raja besar, baik dan bijaksana harus memenuhi Panca  Pratama  atau lima hal  baik yaitu :

1. Mulat artinya waspada dalam segala hal.

2. Amilala artinya memelihara dengan baik hal-hal yang telah ada.

3. Amiluta, berbuat baik agar setiap orang atau rakyat suka kepadanya

4. Miladarma, melaksanakan darma yang baik agar tercipta kesejahteraan lahir batin.

5. Palimarma, belas kasih, suka memaafkan kepada orang yang bersalah.

 

Sri MN IV dan R. Ng. Ronggowarsito merupakan pujangga yang paralel pada jamannya. Beberapa kalangan mengatakan  bahwa Sri MN IV sangat kuat dalam tataran filosofisnya sedangkan R. Ng. Ronggowarsito menguasai kosa kata yang baik.

Sri MN IV tercatat sebagai salah satu filosof dunia, sebagaimana tercatat dalam “Le dictionnaire De Philosophie “.

Hasta Brata diambil dari Serat Rama karya R. Ng. Yasadipura I yang merupakan ajaran Sri Rama kepada Gunawan Wibisana adik Rahwana, ketika harus menggantikan menjadi raja di Alengka karena Rahwana gugur.

 

Untuk menata kedalam, Sri MN IV menciptakan Serat Tripomo sebagai ajaran moral yang dijadikan kerangka acuan pemikiran bagi beberapa  pihak untuk memahami dan menghargai karya pendahulunya. Himbauan berupa sanepo atau kiasan melalui syair Serat Tripomo ditujukan kepada anggota masyarakat Mangkunegaran yang memiliki kedudukan seperti pangeran, pimpinan prajurit, dll; dalam ukuran norma orang jawa.

Serat Tripomo merupakan satu model yang telah dibuktikan mampu untuk memahami kondisi situasional yang dihadapi dan mengambil solusi sesuai kadarnya.

Pemikiran Sri MN IV ini  rupanya sejalan  dengan pemikiran para ahli pendidikan sekarang yang menyatakan bahwa berbagai pemahaman terhadap pengetahuan, termasuk di dalamnya pemahaman terhadap teori dan fakta difokuskan pada tiga pertanyaan :

1.      What exists the condition or case under study.

2.      How is it changing.

3.      How can planed change be brought about intentionally.      

 

Dengan mendasarkan pada keteladanan sebagaimana tersurat pada Panca Pratama dan Hasta Brata maka  Sri Mangkunegoro IV menata pemerintahannya dengan gebrakan yang bersifat ragawi & rohani. Hal tersebut ditunjukkan dengan al :

1.      Arahan   yang ditujukan kepada para kerabat dan  para  sentono :

  “Penguasa (raja) selalu dihubungkan dengan ucapannya yang dianggap setinggi gunung, tidak dapat dibantah. Menjadi penguasa itu berkat karunia Tuhan, cara yang digunakan bergantung pada kepribadian yang dimiliki.”

   “Kalau menjadi penguasa itu untuk memenuhi kebutuhan hidup maka yang ditampilkan adalah keserakahan, berbuat kekerasan dan menggunakan kekuatan. Tetapi jika menjadi penguasa untuk kesejahteraan umum maka yang ditampilkan adalah darma, belas kasih, dan tanggung jawab. Sekarang kebanyakan yang sudah menjadi penguasa menjadi lupa, tidak rela kehilangan kedudukan.”

 “Seseorang yang sudah dewasa dalam berpikir, bijaksana dan memahami peraturan, jangan  takut  jika diminta menjadi penguasa.”

 

2.      Dikeluarkannya  Layang  Pranatan Tentang Larangan Suap  Tahun 1854.

  • Segala orang yang menginginkan kedudukan  apakah menjadi Ngabei, Demang, Rangga serta Bekel dilarang menyuap dengan uang atau barang lain yang ada harganya.
  • Jika berhasil memperoleh kedudukan, dilarang meminta uang jasa kepada bawahannya.
  • Barang siapa melanggar perintah ini, yang memberi atau yang menerima suap akan dikenakan hukuman setimpal  dengan kesalahan.

 

3.      Kebijakan Pengelolaan Tanah.

 Untuk perluasan penanaman kopi  secara besar besaran, dilakukan :

  • Tahun 1853, memanfaatkan tanah yang belum dikerjakan.
  •  Tahun 1857, Sri Mangkunegara IV memerintahkan menarik semua tanah yang disewa para pengusaha untuk dikelola sendiri.
  •  Tahun 1862 menarik kembali tanah apanage (tanah sewa) dengan ganti rugi.
  •  Untuk mengawasi, menanam, dan menjaga tanah yang dikerjakan, ditugaskan pegawai dan prajurit dengan gaji bulanan F.10.

 Tanah tanah tersebut selain untuk menanam kopi juga untuk kebun penghasil cokelat, lada, pala, vanili, tebu, dan karet.

Keberhasilan Sri MN IV dalam mengelola tanah sebagaimana laporan  Residen Surakarta Jeekel  kepada Pemerintah Hindia Belanda yang menuliskan bahwa daerah wilayah Mangkunegaran yang semula semak belukar sudah tidak ada lagi karena sudah ditanami  dan beban rakyatnya sudah  tidak terlalu berat. Hasil kopi memberi keuntungan yang baik,sehingga dapat mensubsidi pabrik gula.

 Kemudian  adanya bantuan modal kerja dari Nederlandsche Handelmaatschappij di Semarang dan Maatschappij maka pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu dapat berjalan baik.

 Surat Kabar De Locomotief yang terbit tanggal 2 September 1881 menulis bahwa kedua pabrik tersebut menjadi percontohan.  Hampir tiap orang asing baik pejabat maupun swasta yang ke Surakarta, tentu mengajukan permohonan kepada Sri  Mangkunegoro  IV untuk mengunjungi pabriknya.

 

4.      Menata Struktur birokrasi.

 Sri Mangkunegoro IV menata struktur birokrasi pemerintahan dengan mengeluarkan Maklumat  tertanggal  11 Agustus 1867  Tentang Struktur Birokrasi pemerintahan yang  merupakan pengadaptasian struktur secara organisasi birokrasi barat, seperti pokok pikiran Fred  E. Fieler pada masa sekarang, artinya struktur birokrasi menganut tata hubungan pimpinan–anggota, tingkat struktur, wewenang, tugas dan tanggung jawab yang jelas.

 Pengadaptasian struktur organisasi birokrasi  secara organisasi birokrasi barat, serta  penempatan tenaga asing  pada bidang tertentu seperti keuangan & ketatausahaan membuktikan bahwa Sri MN IV adalah interpreneur yang mampu membaca tanda-tanda zaman.

  

3.      Penataan  dibidang Hukum.

 Hukum adalah suatu pranata sosial yang harus ditaati oleh masyarakat, sejak Mataram Islam dibawah VOC kemudian Pemerintah Hindia Belanda, hukum yang berlaku adalah Hukum Barat. Hal ini seringkali orang pribumi diperlakukan tidak adil.

 Menyadari hal itu, Sri Mangkunegoro  IV mendesak Residen Surakarta agar ada perubahan hukum bagi pribumi. Hal tersebut  ditindak lanjuti  Residen Surakarta dengan  melayangkan Surat  kepada Gubernur Jenderal, No. 3515 tanggal Surakarta 25 April 1873  yang mengusulkan agar di Kasunanan dan Mangkunegaran dibentuk Pradoto Kabupaten.

 Pemerintah Hindia Belanda menyetujui usul Residen dengan Surat Sekretaris Pemerintah No. 1302 tanggal Batavia  9 Juni 1873.

 Dengan Afdeling-afdeling pradoto pengadilan, maka sejak 1873 masalah pengadilan bagi pribumi di wilayah Mangkunegaran sejauh tidak melebihi  tiga  bulan sudah ditangani oleh pradoto pribumi.

 

6.      Pelopor Real Estate Modern.

 Untuk perluasan usaha diluar perkebunan , tahun 1878  Sri MN IV membeli tanah di Kawasan Pendrikan Semarang dan membangun perumahan untuk disewakan.

 

Tentang Mangkunegara IV

RIWAYAT PEKERJAAN

No Tahun Keterangan 1 1826 - usia 15 tahun Pendidikan Kadet pad [ ... ]

KARYA KARYA MONUMENTAL

Karya KGPAA Mangkoenagara IV memiliki nilai histories yang abadi dan karyanya masih dapat disaksikan [ ... ]

Peristiwa semasa RM Sudiro - KGPAA Mangkunego...

    No Tahun Peristiwa 1 3 Maret 1811 RM Sudiro lahir di  [ ... ]

PUTRA/I KGPAA MANGKUNEG...

  ari Garwo  : R. Ay. Semi , putri KPH  Suryomataram, ( anak ke 11 Sri MN II )  No  [ ... ]